Nabi muhammad SWA mengajarkan kita untuk melakukan segala sesuatu nya yang baik. Dan cara memotivasi diri yang ter besar dan paling baik yaitu ada di AL-QURAN DAN ASSUNAH (HADIST) .
TERIMA KASIH.....!
Motivasi dalam Pandangan ajaran Islam, memiliki posisi yang sangat penting dan menentukan. Keabsahan, kesahihan, dan sekaligus diterima tidaknya suatu amal perbuatan sangat bergantung pada niat atau motivasinya. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya setiap amal perbuatan sangat tergantung kepada niatnya. Dan bagi setiap manusia (hasilnya) tergantung kepada apa yang diniatkannya. Maka barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah karena dunia yang ingin dia dapatkan atau perempuan yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu tergantung kepada apa yang dia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).
Menarik sekali hadits tersebut di atas, karena berkaitan dengan perbuatan yang secara lahiriah pasti memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Seperti meninggalkan tanah air dan kampung halaman, keluarga dan sanak famili, pekerjaan dan harta benda yang dimiliki. Pekerjaan tersebut adalah hijrah dari Makkah ke Madinah. Allah SWT memuji orang-orang tersebut, seperti tergambar dalam firman-Nya: "Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia." (QS. Al-Anfal [8]: 74-75).
Meskipun demikian, nilai perbuatan tersebut di hadapan Allah SWT sangat bergantung pada niat orang-orang yang berhijrah tersebut. Rasulullah SAW bersabda: "Betapa banyak amal perbuatan yang kelihatannya semata-mata urusan dunia (seperti makan, minum, bekerja, berdagang, dan mengajar), akan tetapi karena niatnya baik, maka ia menjadi amal akhirat. Dan betapa banyak pula perbuatan yang kelihatannya amal akhirat (seperti shalat, puasa, dan haji) akan tetapi karena niatnya buruk, maka ia hanya menjadi amal dunia semata-mata." (HR. Jama’ah).
Dalam perspektif syariat Islam, niat paling tidak memiliki beberapa pengertian. Pertama, niat yang bertujuan menentukan jenis perbuatan ibadah. Seseorang misalnya masuk masjid untuk melaksanakan salat dzuhur, lalu shalat dua rakaat sebelumnya. Apakah ia melaksanakan shalat qabliyah dzuhur atau shalat tahiyatul masjid, maka yang menentukan adalah niatnya.
Kedua, niat yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai dari perbuatan yang dilakukan. Dalam pengertian ini, terdapat niat yang ikhlas karena Allah SWT atau sesuatu yang mengantarkan pengabdian kepada Allah. Seorang suami yang berusaha mencari nafkah yang halal untuk keluarganya dengan niat yang baik, maka insya Allah hal itu termasuk niat karena Allah. Di samping terdapat niat yang ikhlas, juga terdapat niat yang tidak ikhlas atau niat yang kurang baik yang disebut dengan riya.
Riya secara harfiah berarti ingin dilihat. Sedangkan secara terminologis bermakna seseorang melakukan suatu perbuatan hanya karena ingin dilihat orang banyak. Sehingga apabila tidak ada orang lain yang melihat dan memujinya, maka ia sama sekali tidak mau melaksanakan perbuatan tersebut. Riya ini sering kali dilakukan oleh orang-orang munafik yang berpura-pura melakukan perbuatan-perbuatan baik jika di hadapan orang lain. Sedangkan apabila tidak ada orang lain, maka ia sama sekali tidak mau melakukannya. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk ke dalam golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya." (QS An-Nisa' [4]: 142-143).
Niat atau motivasi riya ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai akidah Islamiah dan terutama pada nilai-nilai ketauhidan. Karena itu setiap muslim harus berusaha dengan sungguh-sungguh agar segala perbuatannya ditujukan untuk mendapatkan ridha dan ampunan dari Allah SWT.
Ikhlas secara harfiah berarti bersih. Sedangkan secara terminologis berarti berbuat atau melakukan sesuatu hanya karena ingin melaksanakan ketentuan-Nya dan karena itu hanya ingin mendapatkan ridha-Nya semata. Niat yang ikhlas ini harus senantiasa ditanamkan dalam setiap aktivitas kaum muslimin sehingga perbuatan baik apa pun yang dilakukannya akan memiliki nilai di hadapan-Nya, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Allah berfirman, "Daging- daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dan kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj [22]: 37).
Meskipun hakikat niat itu terdapat di dalam hati sanubari, tetapi ada beberapa indikator seseorang melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas karena Allah. Pertama, perbuatan tersebut harus dilakukan dengan penuh kesungguhan. Adalah tidak benar, dengan mengatas-namakan keikhlasan kemudian seseorang melakukan pekerjaan tanpa keseriusan. Kesungguhan dalam melakukan perbuatan baik akan mengundang rahmat dan cinta dari Allah SWT. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT sangat mencintai jika seseorang melakukan pekerjaan dengan penuh kesungguhan." (HR. Thabrani).
Kedua, perbuatan tersebut dilakukan dengan cara yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Misalnya, seseorang yang mengerjakan shalat sunah setelah shalat subuh atau setelah ashar, walaupun kelihatannya serius serta mungkin niatnya baik, shalat tersebut tentu tidak akan diterima oleh Allah.
Ketiga, perbuatan baik tersebut dilakukan secara tertib, teratur, dan terus-menerus. Rasulullah Saw. bersabda, "Sebaik-baik amal perbuatan adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun kecil (sedikit)." (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar